ABS-SBK dan Visi Pascasarjana UIN Bukittinggi 2047 (Integrasi Kearifan Lokal, Islamic Studies, dan Sains Teknologi)

Oleh Prof. Dr. H. Nunu Burhanuddin, Lc., M.Ag

Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) merupakan inti peradaban Minangkabau yang menyatukan dimensi moral, sosial, dan intelektual dalam satu kerangka nilai. Ia bukan sekadar simbol kultural, melainkan sistem etika hidup yang mengatur relasi manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Dalam konteks pengembangan pendidikan tinggi Islam, ABS-SBK memiliki relevansi strategis, khususnya bagi Pascasarjana UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi yang menegaskan visi menjadi pascasarjana unggul berbasis kearifan lokal dalam bidang Islamic Studies serta sains dan teknologi pada tahun 2047.

Secara historis, ABS-SBK lahir dari proses dialog kreatif antara Islam dan adat Minangkabau. Islam tidak menghapus adat, melainkan memberi orientasi transenden dan kerangka etik yang kokoh. Sebaliknya, adat menyediakan ruang praksis bagi nilai-nilai syariat agar membumi dan kontekstual. Sinergi ini melahirkan peradaban yang tidak terjebak pada dikotomi agama dan budaya, tetapi menempatkan keduanya dalam hubungan integratif dan saling menguatkan. Paradigma inilah yang sejatinya sejalan dengan visi keilmuan Pascasarjana UIN Bukittinggi.

Visi Pascasarjana UIN Bukittinggi 2047 menempatkan kearifan lokal sebagai basis pengembangan Islamic Studies serta sains dan teknologi. Ini bukan pilihan romantik, melainkan strategi epistemologis. Di tengah krisis makna akibat modernitas yang serba instrumental, kearifan lokal seperti ABS-SBK menyediakan fondasi etika untuk mengarahkan pengembangan ilmu pengetahuan agar tetap berpihak pada kemanusiaan dan keberlanjutan. Islamic Studies yang dikembangkan tidak berhenti pada kajian teks normatif, tetapi berdialog dengan realitas sosial-budaya Minangkabau sebagai laboratorium hidup nilai-nilai Islam.

Dalam perspektif ini, ABS-SBK dapat dibaca sebagai kerangka integratif-interkonektif keilmuan. Prinsip syarak mangato, adat mamakai mencerminkan relasi antara normativitas wahyu dan praksis sosial. Pendekatan ini relevan bagi pengembangan sains dan teknologi yang tidak bebas nilai. Sains, dalam kerangka ABS-SBK, tidak sekadar alat eksploitasi alam, tetapi sarana ikhtiar manusia untuk menjaga keseimbangan kosmik dan kemaslahatan bersama. Dengan demikian, pengembangan sains dan teknologi di Pascasarjana UIN Bukittinggi diarahkan tidak hanya pada inovasi, tetapi juga pada tanggung jawab etis.

Keunggulan Pascasarjana UIN Bukittinggi juga terletak pada kemampuannya menjadikan ABS-SBK sebagai basis pembentukan karakter akademik. Nilai-nilai seperti musyawarah, amanah, keadilan, dan tanggung jawab sosial yang hidup dalam adat Minangkabau sejalan dengan tujuan pendidikan pascasarjana: melahirkan intelektual Muslim yang kritis, moderat, dan berintegritas. Di sini, ABS-SBK berfungsi sebagai etika akademik yang mendorong kejujuran ilmiah, sikap kolaboratif, dan kepekaan sosial dalam riset serta pengabdian kepada masyarakat.

Menuju tahun 2047, tantangan global seperti krisis lingkungan, disrupsi teknologi, dan fragmentasi sosial menuntut pendekatan keilmuan yang holistik. ABS-SBK menawarkan perspektif keberlanjutan yang berbasis nilai. Hubungan manusia dengan alam dalam adat Minangkabau tidak bersifat eksploitatif, melainkan relasional. Prinsip ini relevan untuk pengembangan riset sains dan teknologi yang ramah lingkungan serta berpihak pada kesejahteraan masyarakat lokal. Pascasarjana UIN Bukittinggi, dengan posisi geografis dan kulturalnya, memiliki peluang besar menjadi pusat kajian Islam, budaya, dan sains berkelanjutan di kawasan Sumatera dan nasional.

Pada akhirnya, mengaitkan ABS-SBK dengan visi Pascasarjana UIN Bukittinggi 2047 berarti menegaskan bahwa keunggulan akademik tidak harus tercerabut dari akar budaya. Justru, kearifan lokal yang diolah secara ilmiah dapat menjadi sumber inovasi dan diferensiasi keilmuan. ABS-SBK bukan masa lalu yang ditinggalkan, melainkan sumber nilai untuk merancang masa depan. Dengan menjadikannya fondasi pengembangan Islamic Studies serta sains dan teknologi, Pascasarjana UIN Bukittinggi menegaskan perannya sebagai institusi akademik yang unggul, berkarakter, dan relevan dengan tantangan zaman.