Penulis: Prof. Dr. Hj. Hesi Eka Puteri., SE., M.Si (Pascasarjana UIN Bukittinggi)
Di tengah lanskap global yang dipenuhi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, Madinah tetap hadir sebagai ruang yang teduh di antara pusaran konflik, menawarkan ketenangan psikologis serta nuansa spiritual yang menenteramkan. Dimensi religius, historis, politik, dan psikologis saling menguatkan untuk menjadikan kota ini sebagai ruang kontemplatif bagi setiap jamaah haji. Gelombang I jamaah memulai perjalanan dari Madinah lalu menuju Mekkah untuk puncak haji, sementara Gelombang II justru mengambil rute sebaliknya, memulai dari Mekkah dan menutup perjalanan di Madinah. Pola perjalanan ini secara simbolik menegaskan bahwa di tengah dinamika global yang tak menentu, Madinah tetap menjadi titik hening yang merawat keseimbangan batin para jamaah.
Sesuai dengan namanya, Madinah al-Munawwarah “kota yang bercahaya”, Madinah adalah ruang yang tenang dan sarat makna spiritual. Berbeda dengan Makkah yang menjadi pusat puncak ibadah haji dengan dinamika yang lebih intens, Madinah menghadirkan suasana yang lebih kontemplatif dan menenteramkan. Ada beberapa alasan sederhana mengapa kota ini mampu menghadirkan ketenangan batin bagi jamaah, bahkan ketika perhatian dunia tertuju pada ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Secara geografis, Madinah relatif jauh dari pusat-pusat konflik di kawasan tersebut. Mengamati peta, titik-titik konflik lebih banyak terkonsentrasi di wilayah seperti Yaman, Suriah, Palestina, dan Irak, serta pada ketegangan di sekitar Selat Hormuz. Sementara itu, Madinah terletak di bagian barat Arab Saudi, menghadap Laut Merah, dan berjarak ratusan kilometer dari episentrum konflik, sehingga berada di luar radius langsung eskalasi militer. Kota ini juga berada di wilayah inti Arab Saudi yang relatif stabil secara politik dan keamanan, ditopang sistem pertahanan yang kuat. Berbeda dengan kawasan perbatasan atau jalur energi strategis, Madinah lebih menonjol sebagai pusat religius ketimbang target militer, sehingga posisinya cenderung aman dari pusaran konflik.
Dari sisi politik dan keamanan, status madinah sebagai kota suci di bawah pengelolaan ketat negara membuatnya relatif steril dari eskalasi konflik kawasan. Pemerintah Saudi berkomitmen penuh memperlakukan Madinah dan Makkah sebagai zona aman khusus, dan selalu memprioritaskan keselamatan jemaah haji dan umrah di atas dinamika politik regional. Akses ke kota suci dipantau ketat, termasuk penggunaan izin digital (e-permits). Sebagai al-Madinaul Haram (tanah suci), area ini diatur untuk tidak tersentuh perang, dan pemerintah menjamin keamanan penduduk dan juga peziarah. Meski terjadi ketegangan geopolitik (misalnya perang Iran-Israel-US), aktivitas ibadah di Madinah tetap berjalan normal dan aman.
Secara historis, kota ini menyimpan memori awal pembentukan peradaban Islam yang mengusung kedamaian dan persaudaraan. Sebagai kota hijrah Nabi Muhammad SAW, Madinah memiliki otoritas spiritual yang menjadikannya pusat ibadah yang hidup melalui keberadaan Masjid Nabawi. Kedekatan dengan Masjid Nabawi, tempat dimakamkannya Nabi Muhammad SAW, menghadirkan nuansa spiritual yang mendalam. Jamaah tidak hanya beribadah, tetapi juga merasakan kedamaian yang sulit ditemukan di tempat lain. Bahkan ketika kawasan Timur Tengah berkecamuk, jejak keteladanan dan perjuangan Rasulullah tetap dirasakan meneduhkan hati umatnya. Selain itu, terdapat juga sejumlah destinasi penting yang menjadi bagian dari perjalanan spiritual, seperti Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun dalam sejarah Islam serta Masjid Qiblatain yang menjadi saksi perubahan arah kiblat. Jabal Uhud pun hadir sebagai lanskap sejarah perjuangan umat Islam. Semua destinasi ziarah ini membentuk mozaik spiritual yang utuh dan menjadi ruang refleksi yang memperkaya makna perjalanan ibadah haji.
Dalam konteks psikologis, orientasi tunggal jamaah yang tertuju hanya pada ibadah, ditopang oleh kerinduan panjang untuk menunaikan haji, menjadikan ketenangan batin jauh lebih dominan daripada kecemasan sebesar apa pun. Kondisi inilah yang kemudian menghadirkan ruang batin yang teduh, menjadikan Madinah bukan sekadar destinasi, melainkan fase transisi spiritual yang menenteramkan sebelum menuju puncak ibadah di Mekkah. Kedekatan emosional dengan Rasulullah, yang dihadirkan melalui ziarah dan ibadah, perlahan meluruhkan kegelisahan dan kepenatan dalam perjalanan. Bahkan bayang-bayang konflik sekalipun menjadi tidak menakutkan bagi seorang hamba yang telah lama merindukan perjumpaan spiritual dengan Rabb dan Nabinya.
Hal terpenting yang perlu diingat adalah haji bukan sekadar perjalanan yang aman dan nyaman, melainkan perjalanan spiritual yang menuntut kesiapan mental, fisik, serta keikhlasan. Penekanan berlebihan pada aspek keamanan dapat menggeser orientasi jamaah dari dimensi ibadah ke sekadar kenyamanan. Dalam kerangka itu, Madinah menempati posisi penting sebagai simpul awal maupun akhir perjalanan. Bagi jamaah gelombang pertama, Madinah menjadi ruang adaptasi untuk menata fisik dan batin sebelum memasuki intensitas ibadah di Makkah. Sebaliknya, bagi gelombang kedua, Madinah adalah tempat mengurai kelelahan setelah puncak haji. Pada akhirnya, yang dibawa pulang bukan sekadar kenangan perjalanan, tetapi kedalaman makna dan keteguhan iman. Selamat menunaikan ibadah haji, Semoga Allah menganugerahkan haji yang mabrur.

